Doa
“Ya Allah, mobil sporty dua pintu, kabulkanlah!” Ucap seorang pemuda melafalkan harap pintanya. Syahdan Allah kabulkan, pickup L300. “Aku minta mobil sporty dua pintu, Ya Allah,” protes si pemuda. “Mobil dua pintu kebutuhanmu adalah pickup, bukan Ferrari,” jawab Allah. Pada surat Al Baqarah ayat 186 Allah menyampaikan pesan-Nya menggunakan diksi, “Ujibu; Allah MENJAWAB (merespon). Allah tidak menggunakan kata mengabulkan. Iya, secara linguistik menjawab dengan kata (ajabayujibu), sedangkan mengabulkan (qabila – yaqbalu). dan kita sering mengucapkan, istajib du’a ana; responlah doa kami. Ya meskipun keduanya, secara makna umum, sama.

Saat Allah merespon harapan dan doa kita, dengan cara mensinergikan KEINGINAN dan KEADAAN kita. Maka L300 lah yang paling SPORTY. Jadi, saat melafalkan harapan, ingatlah sabda Insan Mulia. “Ud’ullaha wa antum muqinuna bil ijabah; berdoalah kepada Allah dengan keadaan yakin akan dijawab”. Dengan syarat dan ketentuan, “Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi)

Maka, jangan lalaikan hatimu terhadap janji Allah. Caranya? Jangan mudah memvonis Allah terhadap pengabulan janji Allah yang berbeda dengan lafallafal doa kita. Ingatlah sebuah sabda mulia yang disampaikan oleh sahabat ‘Ubadah bin Shamit dan Abi Sa’id, yang menginformasikan tiga cara bagaimana Allah merespon panjat pinta doa kita,

(1). Atahullah iyyaha; Allah akan memberikan seperti yang diminta hambaNya,
(2). Ayyaddakhira lahu fil akhirah mitslaha; Allah menyimpannya sebagai pahala diakhriat nantinya.
(3). Sharafa ‘anhu minas suu’i mitslaha; Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal”. Nah, yang poin ketiga inilah yang bisa dimaknai sebagai pengabulan itu mendasar kebutuhan kita, bukan sebatas keinginan.

Menariknya adalah reaksi sahabat radhiyallahu ‘anhu sebakda mendapatkan informasi dari Rasulullah. ‘Idzan nuktsiru; jika seperti itu kami perbanyak doa kami. Iya, jika para sahabat semakin semangat berdoa, maka menjadi keniscayaan kitapun juga semakin memperbanyak listing doa doa yang akan kita panjat dan pintakan kepada Allah.

Maka ingatlah dua pintu doa,
(1). Pengabulan itu kebutuhan, dan
(2). Hati yang yakin 

Rezeki

Kondisi pandemi seperti ini, tentunya banyak yang merasa kesulitan mengais rezeki, mendapatkan profit dari usahanya, atau kehilangan pekerjaannya sehingga pintu penghasilannya tertutup. Maka sering terdengar kalimat keluhan semisal, “Sulit mendapat rezeki kalau kondisinya seperti ini”, “Sepi pembeli”, dan kalimat lainnya yang senada.

Iya, kondisi sekarang memang menyulitkan akses bekerja, mengais rezeki, mencari nafkah, bahkan juga dalam berinteraksi sosial. Namun perlu dipahami setiap ketidaknyamanan kondisi kita, pasti masih ada selipan-selipan kebaikan yang sudah Allah siapkan. Sebagaimana Nabi Adam sesaat dikeluarkan dari surga, dengan bahasa lain, Nabi Adam kehilangan kenikmatan surga. Sebagaimana kita kehilangan banyak kenikmatan hidup saat kondisi ini. Tetapi perhatikan redaksi ayatnya,

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah (2) :38).

Iya, selipan kebaikan itu adalah petunjuk-petunjuk Allah, karena hidayah kan selalu membersamai kondisi, keadaan, dan nuansa kehidupan kita. Fahami petunjuk Allah maka hikmah akan terproduk, dimana dengan hikmah itulah kita bisa menikmati apapun keadaan kita, karena tentunya ada saja orang yang secara finansial naik saat pandemi ini. Dan salah satu sahabat menuturkan tips usahanya.

Ucapnya, “Memang rezeki itu banyak didapat melalui ikhtiar usaha, berbisnis, dan transaksi jual beli,” jelasnya dengan mimik santai. “Tapi ketahuilah pintu rezeki tidak hanya dengan ikhtiar bisnis,” jelasnya lebih lanjut. “Namun juga bisa dengan pintu rezeki lainnya, yaitu berbisnis dengan Allah.”

Masya Allah, mengena sekali tutur nasihat sahabatku ini. Maka, teringat sabda Rasulullah yang secara derajat hadisnya masih dipermasalahkan karena terstatuskan mursal. “Tis’atu a’syari ar rizki fi at-tijarah; sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan”. Maka, benar tutur seorang syaikh Hisyam di Kairo, “Pintu rezeki itu terbagi menjadi dua,
(1) Ikhtiar transaksi jual beli dengan pembeli, dan
(2) Ikhtiar berbisnis dengan Allah melalui ibadah; baik dalam bentuk sedekah, shalat dhuha, kalimat istighfar, bahkan ibadah menikahpun menjadi pintu rezeki.”

“Namun…”, kata beliau, “manusia sering alpa dengan pintu rezeki yang kedua ini, padahal asal muasal rezeki itu dari Allah,” sambil beliau mengutip ayat. “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Al-Dzariyat (51): 22). Beliau menutup dengan kalimat yang makjleb, “Bahkan amaliah hatipun bisa menjadi pintu rezeki, yaitu bersyukur.” (QS. Ibrahim (14) : 7).

Iya, pintu bersyukur memang yang sering kita lupakan dalam kondisi seperti ini. Mari me-recharge lagi rasa syukur kita atas segala karunia dan anugerah Allah. Maka, ingatlah, dua pintu rezeki;
(1). Bertransaksi dengan Allah,
(2) Dengan ikhtiar berniaga dan berdagang. Bitaufiqillah semoga Allah mengaruniakan lapis-lapis kebaikan bagi kita semua, amin. (Allahu a’lam).

Oleh:
Ustaz Heru Kusumahadi M.PdI
Pembina Surabaya Hijrah (KAHF)

———————————————————————-

Salurkan Zakat Infaq dan Sedekah  Infak Anda melalui:
Website: zakato.co.id
BSI 708 2604 191
An. Lembaga Manajemen Infaq
Konfirmasi: 0823 3770 6554

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *