Zakat merupakan kewajiban muzakki (wajib zakat) dan menjadi hak mustahik (pihak-pihak yang berhak). Kelompok mustahik telah disebutkan oleh Surat Al-Taubah 60, yakni: fakir, miskin, amil, muallaf, pembebasan budak, orang yang terlilit hutang, sabilillah, dan ibnu sabil.

Zakat dibayarkan untuk kepentingan pihak-pihak penerima (mustahik), bukan untuk kepentingan si pembayar zakat (muzakki). Zakat tidak boleh diberikan kepada pihak lain sebagai imbalan atas
jasa yang dilakukan atau sebagai gaji. Zakat merupakan pemberian murni tanpa imbalan yang diterima oleh muzakki.

Zakat tidak boleh diberikan kepada pihak-pihak yang memiliki hubungan dengan muzakki sebagai ushul (ayah, ibu, kakek, nenek), atau furu` (anak, cucu), atau istri yang menjadi tanggungan si muzakki, meskipun mereka memenuhi kriteria sebagai salah satu mustahik (penerima zakat).

Muzakki wajib membayar zakat dengan niat berzakat, bukan dengan niatan yang lain. Apabila seseorang tidak meniatkan pemberiannya kepada mustahik sebagai zakat, maka praktik itu tidak terhitung
sebagai zakat, sebab segala sesuatu tergantung pada niat (HR. Al-Bukhari).

Apabila seseorang memiliki kebiasaan memberikan 2,5% pendapatannya kepada kerabat atau pihak lain yang kekurangan tetapi tidak berniat sebagai zakat, maka tidak dianggap sebagai zakat. Pembeda suatu pemberian dikategorikan sebagai zakat atau sedekah atau hadiah atau hibah atau pemberian lainnya adalah niat dalam hati pemberinya.

Di masyarakat berlaku adat yang baik, yaitu pemberian hadiah, bingkisan, santunan, atau tunjangan pada momentum tertentu. Sebagian orang memiliki anggaran tertentu yang dialokasikan sebagai pemberian kepada pihak lain, selain zakat yang wajib ia bayarkan. Tetapi, sebagian orang menjadikan
zakatnya sebagai hadiah, bingkisan, santunan, atau tunjangan kepada pihak tertentu.

Pada dasarnya, bila seorang muzakki memberikan zakatnya kepada mustahik secara langsung, ia tidak
diharuskan menyampaikan kepada penerima status pemberian itu. Apabila zakat disalurkan melalui lembaga (LAZ, BAZNAS, Yayasan, Masjid), maka diharuskan menyampaikan status pemberian itu sebagai zakat sehingga lembaga penerima tidak keliru dalam menyalurkannya.

Praktik pemberian oleh muzakki dengan ragam bentuk di atas memerlukan rincian hukum agar muzakki benar-benar terbebas dari tanggungan zakat. Secara prinsip, batasan yang menjadi patokan bagi muzakki adalah adanya niat berzakat, ketepatan sasaran penerima, dan tidak menjadi pengurang atas pemberian yang seharusnya diberikan, serta tidak ada kepentingan tertentu bagi muzakki yang
diharapkan diterima dari mustahik.

Zakat boleh ditunaikan dengan memanfaatkan momentum tertentu (munasabat), semisal menjelang Idul Fitri atau momen lainnya selama tidak berakibat penundaan pembayaran dari putaran haulnya. Karena kewajiban zakat bersifat segera sehingga tidak diperkenankan menundanya.

Empat batasan ini menjadi frame untuk menentukan status penyaluran zakat dengan ragam bentuk tersebut

1. Apabila seseorang memberi karibkerabatnya suatu pemberian, ia berniat sebagai zakat dan penerima termasuk dalam kategori mustahik, maka pemberian itu menjadi zakat. Tetapi, bila pemberi meniati pemberian itu sebagai hadiah dan tidak berniat sebagai zakat, maka pemberian itu tidak termasuk zakat,
dengan demikian kewajiban zakat masih dalam tanggungannya.

2. Terhadap pembantu atau karyawan yang tergolong kaya, atau gajinya mencukupi untuk diri dan keluarganya, tidak diperkenankan memberikan zakat kepada mereka. Zakat juga tidak boleh
diberikan kepada asisten rumah tangga atau karyawan sebagai gaji. Karena gaji merupakan akad pertukaran dengan adanya imbalan atas jasa yang diberikan, adapun zakat merupakan pemberian
sebagai kewajiban dengan tidak ada imbalan material yang diterima oleh muzakki.

3. Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat boleh diberikan kepada asisten rumah tangga (pembantu), karyawan atau pegawai, dengan catatan pemberi meniatkan pemberian itu sebagai zakat dan penerima memenuhi syarat sebagai mustahik. Apabila muzakki memberi mereka dengan niat sebagai hadiah
atau tunjangan, maka yang demikian tidak termasuk zakat dan muzakki belum terbebas dari tanggungan zakat.

Muzakki juga harus memastikan bahwa tidak ada kepentingan apapun yang harus dia terima dari pembantu dan karyawan penerima zakat. Terkadang sulit mengelola hati, ketika seseorang memberikan
zakat hartanya kepada pembantu atau karyawannya, terbersit harapan agar si pembantu atau karyawan semakin loyal kepadanya dan semakin serius bekerja untuknya. Padahal Allah mengingatkan:

“Janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih
banyak” (QS. Al-Mudatsir: 6).

Sebetulnya, apabila seseorang menginginkan pembantu atau karyawannya yang tergolong mustahik
memperoleh tambahan, sedang ia ingin lebih tulus dan ikhlas dalam membayar zakat, lebih baik bila zakat hartanya dibayarkan ke lembaga zakat, kemudian ia mendaftarkan pembantu dan karyawannya sebagai mustahik di lembaga zakat.

Praktik demikian lebih menjaga hati muzakki dan pembantu atau karyawannya yang tergolong mustahik. Wallahu a`lam bisshawab.

Oleh:
Ustaz Dr. Ahmad Jalaludin, Lc., MA
Dosen Ekonomi Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tunaikan Zakat Infaq Sedekah dan Wakaf melalui Lembaga Amil Zakat Nasional LMI,
transfer bank:
BSI: 708 2604 191
a.n Lembaga Manajemen Infaq

atau sedelah mudah melalui E-Wallet/QRIS/VA klik: bit.ly/infakinharian

Konfirmasi: 0823 3770 6554


LAZ Nasional LMI Jakarta 
Jalan Desa Putera No.5 RT 1 RW 17, Kel. Srengseng Sawah, Kec. Jagakarsa, Jakarta Selatan
www.zakato.co.id | Hotline: 0823 3770 6554
SK Kementrian Agama Republik Indonesia No. 672 Tahun 2021
SK Nazhir Wakaf Uang BWI No. 3.3 00231 Tahun 2019

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *