Passion Anak | Bunda Sinta Yudisia (Psikolog)

Passion Anak | Bunda Sinta Yudisia (Psikolog)

Zaman dahulu, impian anak-anak dibentuk orang tua. Dokter, insinyur, guru, dosen, polisi, tentara, PNS, dan sejenisnya. Zaman sekarang, impian anak-anak dibentuk oleh informasi. Enterpreneur, gamers, youtuber, influencer, vlogger, seiyuu (voice actor), idol, komikus dan sejenisnya. Orangtua selalu berharap yang terbaik bagi anak. Jangan sampai anak-anak hidup lebih menderita dari orangtua, jangan sampai impian mereka tidak tercapai. Kalau dulu kita jalan kaki ke sekolah, sebisa mungkin anakanak sampai ke sekolah tidak terengah-engah dan siap menerima pelajaran. Wajar ketika orangtua bertanya-tanya, apakah pilihan anakanak bisa menjamin masa depan mereka?

Anak yang suka menggambar, ingin sekali masuk Desain Komunikasi Visual (DKV), bisakah mereka jadi komikus yang survive? Penulis di negeri ini masih jauh dari makmur, termasuk komikus. Tempo hari saya ikut seminar anime & manga. Acara itu menjawab pertanyaan saya: kenapa banyak mangaka di Jepang bertahan. Di Indonesia, rantai produksi meletakkan penulis paling bawah. Toko buku, distributor, penerbit, baru penulis. Royalti hanya berkisar 8%-10%. Di Jepang berbeda; penulis menduduki posisi teratas dalam rantai perbukuan. Pantas saja royaltinya antara 40%-60%. Pemerintah juga turut andil dalam rantai tersebut.

Tengoklah Hajime Isayama, Yana Toboso, Masashi Kishimoto, Gosho Aoyama dll meraup untung sebagai mangaka atau komikus. Andaikan minat di estetik plus literasi lalu menjadi komikus di Jepang atau Korea, tentu tak masalah. Di Indonesia? Kembali pada passion anak-anak kita. Orangtua tentu cemas, “Kalau kamu jadi komikus, emang kamu bisa hidup? Kalau kamu pingin jadi seniman dan hidup dari melukis, kamu bisa membiayai anak-anakmu sekolah?” Sebetulnya, anak bisa menjadi seseorang yang sesuai impiannya dan tetap sukses dalam hidupnya. Sukses di sini dalam pengertian bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan secara finansial. Kunci dari hal tersebut adalah memahami “bakat dan minat” anakanak. Dari situlah kita bergerak.

Ketika dewasa, aktivitas finansial manusia bisa berlandas 2 hal:
1. Profesi
2. Minat (kalau plus bakat bisa bagus banget)

Kadang, profesi sangat jauh dari potensi bakat minat. Di zaman sekarang, bisa jadi profesinya sesuai bakat minat. Katakanlah dia menjadi ASN/PNS sesuai harapan orangtua agar finansialnya stabil. Dengan penghasilan tersebut, ia bisa mengembangkan bakatnya sesuai keinginan. Ada seseorang bekerja sebagai ASN, lalu menyisihkan uangnya untuk membangun bisnis kuliner, cita-citanya sejak kecil. Minat, bila menggunakan salah satu jenis tes, dikategorikan ke dalam 12 bagian. Seringkali saat ngetes minat anak-anak SMP dan SMA, muncul 3 kategori paling diminati.

Saya ambil contoh salah satu anak saya sendiri. 3 minatnya yang tertinggi : sains, medis, estetik. Peneliti? Dokter? Seniman?
“Kamu mau masuk kedokteran, Mas?”
“Ah, nggak, Mi!” tolak anakku.
“Lho, ini hasil tesmu ke kedokteran.”
“Iya, tapi aku lebih senang ke alat-alatnya.”

Akhirnya ia masuk teknik biomedik. Ilmu yang menyerempet antara sains, medis dan dunia seni.
“Ummi tau kenapa tes darah mahal? Karena pemeliharaan alatnya. Cairan untuk membersihkan alatnya aja mahal banget, Mi,”
begitu penjelasannya tiap kali cerita tentang alat-alat seputar dunia medis.

Membuat darah buatan, membuat robot pengganti ekstrimitas tubuh yang rusak, membuat alat yang memproduksi vaksin nan rumit; adalah bahasan-bahasannya di rumah. Salah satu cita-citanya membuat tangan robot bagi manusia yang cacat ekstrimitas bagian atas. Tangan yang bisa memiliki kepekaan untuk merasa. Selain itu, minatnya ke bidang seni terutama seni yang saling berkaitan dengan dua minat sebelumnya (sains dan medis). Ia menabung untuk membeli Gundam dan teliti sekali memasang bagianbagian tubuhnya. Terlihat korelasinya, bukan?

Anak saya yang lain juga memiliki minat di bidang estetik (seni) tapi lebih cenderung ke seni literasi dan seni visual. Biasanya, anak-anak memiliki kemiripan minat antara level 1,2,3. Misal, estetik, literasi, musik. Ia akan cocok menekuni minat di sekitar itu. Sebagai penulis atau ahli bahasa atau penyair atau pencipta lagu. Yang agak sulit bila minatnya seperti bertentangan satu sama lain. Misal outdoor, medis, social service. Ini anak cocoknya jadi traveller, dokter atau pekerja sosial? Tapi, di lapangan banyak yang saya temui demikian.

Jenis anak seperti ini kalau kelak menekuni dunia medis, ia gak terlalu suka di belakang meja. Kemungkinan jadi dokter dan suka terjun ke daerah bencana. Masalahnya, kalau kecenderungannya seperti saling bertolak belakang, ortu cenderung mengarahkan yang favorit ya? Sampai sekarang dunia sains dianggap masih sangat menjanjikan daripada dunia sosial. Bagaimana jika anak memiliki minat literasi, medis, sains? Apakah ia akan dibiarkan menjadi sastrawan? Seringkali akan dipaksa masuk jurusan favorit.

Itulah, banyak ortu yang resah curhat. “Anak saya suka gambar. Besok sekolah di mana? Lapangan kerjanya apa?” Bisa saya bayangkan kalau kelak anaknya jadi komikus dengan kehidupan serba sederhana dan masih harus menelusuri jalan sangat panjang. Hajime Isayama, si creator Attack on Titan aja pernah nyaris putus asa dan mau mundur dari dunia manga, lalu beralih jadi barista. Untunglah ia bertemu Kodansha! Saya teringat ucapan seorang komikus muda.

Sebut namanya XX. Saya sempat diskusi dengan dia tentang masa depan komikus Indonesia. Sebagai anak muda yang usianya jauuuh di bawah saya, nasehatnya membuat terpana. “Mbak Sinta, percayalah. Rizki itu benarbenar Allah yang tentukan!” Ia tekankan, jangan paksakan anak-anak untuk hanya mengikuti hasrat orangtua karena sangat berat di lapangan. Konflik batin anak antara tak ingin durhaka dan ingin memilih dunia yang dicintanya akan membuat beban mental psikologis berkepanjangan.

Mas XX cerita, bahwa ia sedikit demi sedikit membangun karir komikusnya lewat lomba yang hadiahnya paling antara 50-100 ribu. Ikut pameran di mana-mana dengan biaya sendiri. Karyanya awalnya diremehkan, tidak dilirik orang. Saat ibu dan ayahnya mendukung, ia terus melaju dan sekarang menjadi salah satu komikus kebanggaan Indonesia. Istrinya menggeluti dunia yang sama dengannya dan saya seneeeng banget melihat pasangan mas XX dan mbak YY itu. Seniman sholih shalihah yang keren banget expert di bidangnya.

Ya, mungkin menjadi komikus tidak seberapa. Saya datang ke pamerannya, melihat mereka mengelar lapak dan masih berjuang bersama banyak komikus lain. Tapi saya melihat sebuah passion yang didasari oleh semangat membara. Saya punya teman komikus, mas MM. Selain membuat perusahaan animasi, ia justru mampu menarik anak-anak yang “nakal” bahkan beberapa di antaranya sudah sangat jauh dari agama, lalu di tarik masuk lagi dalam lingkaran kebaikan.

Keren kan? Entah mengapa, sekarang cita-cita saya bertambah lagi. Saya ingin sekali membangun studio animasi sekelas Ghibli, Wit Studio, MAPPA, Pony Canyon dan sejenisnya. Studio ini nanti akan menampung anak-anak yang mahir di visual, seni, estetik, literasi, sekaligus punya sentuhan sains dan outdoor. Menggarap animasi dari kisah-ksiah sejarah Indonesia mulai perang Diponorgoro, Imam Bonjol, Sunpah Pemuda, Serangan Umum 1 Maret, dsb. Studio ini nanti yang akan menggarap kisah kepahlawanan Muhammad al Fatih, Shalahuddin al Ayyubi, Tariq bin Ziyad, dsb. Saya bayangkan, bahwa persenjataan pasukan Al Fatih jauh lebih dahsyat dari 3D Manuver Gear para anggota Recon Corp di bawah komando Erwin Smith dan Levi Ackerman dalam anime Shingeki no Kyojin.

Saya bayangkan bahwa di animasi tersebut, bukan hanya teriakan “shinzou wo sasageyo” yang menyatukan semangat seluruh prajurit. Tetapi teriakan para panglima Al Fatih yang membangunkan pasukan sholat malam, subuh berjamaah, hingga merapikan barisan. Dan ada soundtrack anggun nan megah, jauh lebih mengesankan dari aransemen Linked Horizon. Lagu yang akan mengingatkan setiap audiens ketika sedang demotivasi megnhadapi dunia yang kejan untuk bangkit kembali. Sosok Erwin Smith, Levi Ackerman, Eren Jeager hanyalah sosok 2D khayalan.

Tapi pangeran Afdal, putra sulung Shalahuddin al Ayyubi yang mendampingi ayahnya berperang; adalah sosok yang benar-benar ada. Jauh ke depan, anak-anak kita yang memiliki passion luarbiasa ini, akan mewujudkan mimpi besar para orangtua seperti saya yang sudah mulai senior. Usia yang kata syaikh Muhammad Ar Rasyid dikatakan sebagai : orang yang mulai dilelahkan dengan hamparan dunia fana. Ayah Bunda, mari dukung terus passion positif dan Ananda-ananda kita tercinta!

Bunda Sinta Yudisia
Penulis & Psikolog

———————————————————————-

Salurkan Zakat Infaq dan Sedekah Anda melalui:
BSM 708 2604 191
An. Lembaga Manajemen Infaq
Konfirmasi: 0823 3770 6554

atau klik bit.ly/DuaKomaLimaPersen untuk salurkan zakat penghasilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *